Senin, 07 April 2014

ASPIRASI CALEG PEREMPUAN: SUARA DARI SEPARUH UMAT MANUSIA

ASPIRASI CALEG PEREMPUAN: SUARA DARI SEPARUH UMAT MANUSIA
Hajat akbar pemilu lima tahunan tinggal beberapa hari lagi. Kampanye berbagai parpol dengan latar belakang dan visinya masing-masing telah dilakukan. Di jalanan dan tempat-tempat umum lainnya, wajah-wajah ‘baru’ maupun ‘lama’ terpampang dengan ukuran besar. Jika ditelusuri dengan teliti, jumlah wajah perempuan makin bertambah daripada lima tahun sebelumnya. Kondisi yang tidak biasa ini dipengaruhi oleh peningkatan jumlah kuota caleg perempuan di pemilu tahun 2014 ini. Kapasitas kursi untuk caleg perempuan diperkirakan 25-30 %, jauh meningkat dari pemilu-pemilu sebelumnya, seperti tahun 2009 yang hanya 18 % dan tahun 2009 yang masih setengah dari tahun berikutnya, yakni 9 %. Kapasitas kursi perlemen yang diperuntukkan bagi kaum hawa ini sudah seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat dan para caleg perempuan. Sama halnya dengan persamaan hak dalam memperoleh pendidikan, kesempatan untuk ikut andil dalam pemerintahan yang membawa ke-maslahat-an pun merupakan hak perempuan. Mereka diperbolehkan menyerukan aspirasi dan pemikiran untuk membawa perubahan yang mengarah pada Indonesia yang lebih baik. Sedangkan bagi masyarakat sebagai pemilih, maka wajib memilih wakil rakyat yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk menyampaikan kepentingan khalayak di parlemen. Publik telah mampu membaca perpolitikan Indonesia dan kritis terhadap berbagai penyimpangan di dalamnya. Untuk itulah para caleg perempuan berkesempatan untuk memperbaiki paradigma ini demi mengembalikan kepercayaan mereka. Politik di Indonesia saat ini masih belum berjalan sebagaimana mestinya. Suara-suara di persidangan parlemen masih didominasi oleh kaum pria. Kursi parlemen bagi caleg perempuan di pemilu sebelumnya yang masih tergolong rendah pun turut mempengaruhi kondisi ini. Akan tetapi, meskipun terjadi peningkatan kursi bagi caleg permpuan, tiap parpol diharapkan tidak hanya ‘asal’ memberikannya. Caleg perempuan yang dicalonkan harus benar-benar memiliki kapasitas di bidangnya. Ada beberapa alasan mengapa caeg perempuan harus ada dan dipilih. Pertama, selama ini caleg perempuan masih dianggap sebagai pemanis partai maupun koalisinya saja. Suara caleg perempuan kerap dianggap sebelah mata. Hal ini dapat dilihat dari beberapa persidangan terbuka yang diliput media massa secara umum, usulan-usulan kebijakan lebih didominasi kaum adam. Terlepas dari pendominasian tersebut, di dalam diri caleg perempuan sendiri telah berkembang rasa ‘malu’ untuk ikut menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Padahal bisa jadi, pemikiran tersebut mampu membawa perubahan bagi Indonesia dan merupakan aspirasi dari banyak masyarakat yang merindukan kehidupan yang lebih baik. Namun demikian, caleg yang dicalonkan atau mencalonkan diri pun harus meningkatkan kualitas kinerjanya. Ia harus mampu membagi waktu secara profesional antara kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaannya sebagai wakil rakyat. Ia tidak dapat disebut sebagai perempuan yang berhasil jika hanya mengutamakan salah satunya saja. Selain itu, fakta saat ini menunjukkan bahwa caleg perempuan cenderung menyelewengkan kekuasannya. Seperti tulisan Kholda dalam tabloid Media Umat (2014: 24) yang berjudul ‘Caleg Perempuan, Masihkah Menawan?’, keterlibatan caleg perempuan hanya berbuah penjara. Ia mengambil contoh anggota legislatif perempuan seperti Wa Ode Nurhayati, Angelina Sondakh, Choirunnisa, dan Gubernur Banten Atut Chosiyah. Perspektif negatif inilah yang harus diubah oleh caleg-caleg perempuan yang akan duduk di kursi perlemen nanti melalui kiprah mereka di pemerintahan. Kedua, Islam sebagai ideologi umat Muslim dan merupakan agama mayoritas masyarakat Indonesia, telah menjelaskan tentang persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Jauh sejak Islam lahir, wanita telah diberi persamaan hak dalam pendidikan dan politik, begitupula dalam aspek kehidupan mu’amalah lainnya. Sahabat Rasul saw yang mendapat gelar ‘Singa Padang Pasir’ Umar bin Khaththab, menyambut baik aspirasi dan nasihat yang datangnya dari seorang perempuan. Ketiga, Dalam buku Woman Who Changed The World yang ditulis Rosalind Horton dan Sally Simmons, 50 tokoh perempuan versi penulis yang dijadikan sebagai figur pengubah dunia. Hal ini bukan tanpa alasan mengingat bagaimana riwayat hidup, kiprah serta perubahan yang telah dibuat melalui keterlibatan mereka di dalamnya yang tertulis dalam buku tersebut. Tanpa melihat sisi positif atau negatif yang dibuat para tokoh wanita tersebut, satu yang tak dapat dipungkiri adalah fakta bahwa mereka telah berhasil melakukan beberapa hal yang mempengaruhi perubahan dunia. Keterlibatan perempuan dalam usaha mewujudkan Indonesia yang maju dan lebih baik makin terbuka lebar. Masyarakat sudah saatnya memandang sama rata antara suara laki-laki dan perempuan. Dengan syarat, opini yang disuarakan telah dipertimbangkan dan disetujui mampu membawa perubahan bagi Indonesia dan dunia. Lebih dari itu, melihat mayoritas penduduk Indonesia dan dunia yang dipegang oleh perempuan, maka dengan memilih caleg perempuan sama halnya dengan memilih suara mayoritas yang melebihi separuh umat manusia. Insha Allah.

Sabtu, 04 Januari 2014

SERUNYA WISATA SYAR'I DENGAN CHERIA TRAVEL



www.cheria-travel.com


SERUNYA WISATA SYAR’I DENGAN CHERIA TRAVEL

Bingung mau mengisi liburan dimana? Ingin pergi ke luar negeri yang kaya dengan tempat menarik dan layak dikunjungi? Jepang pilihannya. Negeri empat musim ini memang tergolong dalam negara dengan wilayah yang tidak terlalu luas, tapi hal ini tidak membuat Jepang minim tempat-tempat seru dan mengasyikkan untuk rekreasi mengisi liburan panjang atau sekedar berakhir pekan. Terus, masih bingung juga dengan pilihan travel yang berpengalaman dengan berbagai kunjungan lokal maupun mancanegaranya? Cheria Travel pilihannya. Banyak pilihan negara destinasi yang ditawarkan dan tentu saja dengan berbagai tempat seru, menarik dan mengasyikkan untuk dikunjungi.
Jika mencari agen dan travel yang bisa membawa liburan ke Jepang tanpa harus memikirkan penginapan, makanan, dan lainnya, langsung saja arahkan jari-jari ke mesin pencari google. Cheria Travel akan langsung dengan mudahnya ditemukan. Melihat banyaknya foto-foto menyenangkan dan keindahan-keindahan berbagai tempat yang pernah dikunjungi Cheria Travel tentu menambah pengalaman Cheria dalam mengantarkan kita ke berbagai tempat wisata tujuan, tentu kita akin yakin bahwa biro perjalanan ini wajib diperhitungkan kualitasnya. Mudahnya, klik aja link-link di bawah ini :-).


Memulai perjalanan wisata

Serunya wisata dengan Cheria Travel dapat dirasakan melalui pelayanannya. Wisata yang ditawarkan tidak hanya membawa kita ke suasana lebih fresh serta menghilangkan kepenatan atas semua aktivitas bejibun yang selama ini kita lakukan sebelum liburan, tetapi kita juga bisa memperoleh pengalaman wisata syar’i disini.
Melalui pengalaman Cheria Travel, kita bisa dengan mudah menemui masjid dan restoran atau tempat-tempat yang menyediakan makanan halal. Kita tidak perlu khawatir lagi tentang keduanya, meski mengingat minimnya restoran yang menyediakan makanan dan minuman halal di negeri Sakura ini. Tidak hanya itu, Cheria Travel juga tahu tempat-tempat yang menyediakan berbagai makanan halal yang sesuai dengan lidah kita.
Berpose di depan Resto
 Selain kita bisa sekalian refreshing, kita juga bisa mentadaburi indahnya alam Jepang di winter season dan dinginnya salju di Jepang. Hmmm, dinginnya salju putih ini tentu tidak menghalangi perjalanan wisata kita. Justru akan sangat merugikan jika kita hanya berdiam diri di akamr mengahangatkan badan dan tidak melakukan apa-apa. Warna alam yang dihiasi dengan putihnya salju dan diselingi warna merah muda dari bunga sakura yang tumbuh subur merupakan pemandangan langka yang tidak boleh dilewatkan. Disini, kita ngga akan kehabisan tempat seru karena Cheria Travel tahu banyak tentang tenpat-tempat favorit disini. Dijamin ngga bakalan nyesel deh menikmati liburan di musim dingin.

Indahnya sakura
Tempat wisata pertama yang wajib dikunjungi adalah Disney land. Tempat ini merupakan salah satu cabang tempat wisata dunia dengan berbagai wahana hiburannys. Lokasinya di Urayasu, Perfektur Chiba, di luar ibu kota Tokyo. Luas banget lho, hampir 465.000 m2. Tempat ini dibagi jadi 7 tempat utama dengan karakter wilayah tertentu, diantaranya adalah Adventureland, Westernland, World Bazaar, Critter Country, Tomorrow Land, Toontown, dan Fantasyland. Pokoknya seru! Di tempat ini, kita bisa mencoba berbagai wahana yang ngga bakalan pernah bisa dilupakan.
Selain Disney Land, ada juga Disney Sea (Ssst, hanya ada satu-satunya di dunia lho, ya di Jepang ini) yang dibagi menjadi 7 wahana utama juga, yaitu American Waterfront, Arabian Coast, Lost River Delta, Mediterranean Harbor, Mermaid Lagoon, Mysterious Island, dan Port Discovery. Nah, ketujuh wahana ini dibagi lagi manjadi berbagai wahana-wahana seru lainnya. Kita bakalan terus ceria deh kalo pergi kesini dengan Cheria Travel.

Lokasi wisata utama Disney Land
Berbagai tempat tujuan wisata di Jepang bisa dengan mudah dicapai dengan kereta listrik yang terkenal di Jepang yang dinamakan shinkansen. Saking cepatnya, kereta ini seperti terbang karena tampak tidak bergesekan dengan rel. Wuiiih . . . ^_^. Shinkansen atau bullet train ini merupakan kereta cepat yang dapat meluncur hingga 250 km/jam. Berbeda dengan kreta api biasa yang menggunakan bahan bakar minyak bumi atau batu bara, shinkansen ini menggunakan listrik sebagai sumber dayanya. Keren kan?


Naik shinkansen yuk . . .

Ikuti pula jalan-jalan dan wisata seru ke tempat-tempat lainnya dengan Cheria Travel. Insha Allah nanti umrah dan pergi haji dengan Cheria Travel juga yuk. Dijamin sama puasnya deh.







LKTI IAIN SNJ 2013


Banyak suka dan duka dalam pembuatan karya tulis ini. Suka karena ternyata saya bisa menghasilkan karya dalam hanya waktu 2,5 jam dengan ide yang terlintas begitu saja karena data karya tulis yang masih kurang lengkap (hasil wawancara). Semula ingin membuat Academic Paper berupa laporan penelitian, tapi saya merasa hasilnya akan kurang bagus jika hanya menggunakan sedikit narasumbeer. Akhirnya saat mengisi daftar hadir, dengan mengucap basmalah, saya beralih haluan tema menjadi Popular Writing. Duka karena artikel yang saya buat mencantumkan hasil wawancara (sebenarnya tanya jawab biasa) saat KKN semester sebelumnya. Tapi ternyata teman saya kurang senang namanya dicantumkan tanpa izin. Inilah kesalahan fatal saya, mencantumkan narasumber tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Saya janji, tidak akan mengulang kode etik jurnalistik tersebut. AlhamdulIllah, seiring perjalanan waktu dan permintaan maaf yang terus diucapkan, mereka pun akhirnya memaafkan saya. Moga Allah meridhai karya saya ini. Inshaa Allah . . . ^_^

INTERNALISASI RASA KEPEDULIAN BANGSA DALAM TIAP PRIBADI MAHASISWA










Oleh:
Lin Indah Hidayati






JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2013

INTERNALISASI RASA KEPEDULIAN BANGSA DALAM TIAP PRIBADI MAHASISWA

Lin Indah Hidayati*)

Sebulan lalu kita dikagetkan dengan peristiwa tersebarnya video yang menampilkan adegan porno di sebuah SMP di Jakarta. Video ini tidak hanya mengejutkan pihak sekolah, melainkan juga disayangkan oleh kalangan akademisi, intelektual, orang tua, dan pelajar lainnya. Video ini diaktori oleh sepasang pelajar SMP dan dilakukan di salah satu ruangan di sekolah tersebut. Tambahan lagi, hal yang membuat miris dan sangat disayangkan adalah orang-orang di dekat mereka saat itu, yang juga teman-teman mereka, justru tertawa-tawa sambil merekam adegan ‘dua aktor’ tersebut.
Peristiwa tersebut membuat banyak masyarakat nasional maupun internasional bertanya, ‘Apakah perilaku anak-anak Indonesia sudah separah itu? Pendidikan seperti apa yang telah diajarkan pada anak-anak itu? Apa saja yang telah dilakukan para pendidik dan orang tua selama pendidikan anak-anak di sekolah?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan masalah dan PR besar bagi masyarakat Indonesia yang perlu segera dicari upaya penyelesaiannya.
Berbagai komentar diutarakan oleh kalangan pendidik dan masyarakat umum terkait permasalahan tersebut. Sebagian besar dari mereka sepakat bahwa faktor peenyebabnya adalah tidak adanya filterisasi media, baik TV maupun internet serta kurangnya pengawasan orang tua dan guru. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia memerlukan banyak pembenahan. Hal ini pula yang diduga menjadi pendorong lahirnya Kurikulum 2013 yang didalamnya menanamkan berbagai nilai tambahan, salah satu diantaranya adalah nilai religius atau ke-Tuhan-an selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Indonesia tampaknya tidak hanya memiliki masalah dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam bidang pemerintahan dan politik. Diantaranya adalah lahirnya berbagai kebijaksanaan pemerintah yang dirasakan masyarakat umum sebagai sebuah keputusan yang tidak bijaksana dan justru menyengsarakan mereka, seperti kenaikan harga BBM selepas Ramadhan lalu dan korupsi mega proyek yang dilakukan para ‘wakil rakyat’.
Kondisi yang bertolak belakang dengan dua kejadian di atas sebenarnya tidak jarang pula kita lihat di beberapa tempat. Hari Ahad kemarin di Desa Dukuh Semar, di sela-sela keramaian terminal Harjamukti, tepatnya di sebuah rumah warga yang terletak di belakang terminal, tampak kerumunan anak seusia SD dan SMP yang tengah belajar. Di dekat mereka, beberapa pemuda dan pemudi tampak mendampingi dan membimbing anak-anak itu.
Anak-anak yang tengah belajar itu tidak lain adalah para anjal, atau anak-anak jalanan, yang sering kita lihat di perempatan lampu merah, pasar, maupun terminal. Alasan klasik (namun masih sulit untuk diketahui pemecahannya) yaitu kondisi perekonomian keluarga menjadi penyebab utama mereka menjalani ‘profesi’ sebagai anjal. Sepulang sekolah, mereka mangkal di tempat-tempat yang menurut mereka bisa mendatangkan uang untuk membantu keuangan keluarga. Lima orang pemuda dan pemudi yang menyertai mereka rupanya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Cirebon.
Abdul Rohim, yang merupakan salah satu dari pemuda tersebut dan berasal dari Jurusan Matematika, memberitahu bahwa proses pembelajaran yang mereka bersifat fleksibel. Artinya, tempat dan aturan disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental anak-anak serta cuaca.
“Mengajari anak biasa dengan anak jalanan tentunya berbeda, meskipun memang mereka juga sekolah. Anak-anak jalanan lebih agresif dan memerlukan bimbingan halus. Dalam artian, tidak bisa dipaksa-paksa. Model pembelajaran harus sering dirubah, karena kalau ngga, mereka bisa bosan. Kami juga mengondisikan tempat apabila sedang hujan. Pernah di pantai atau pinggir sungai itu”, ujarnya sambil menunjuk samping rumah tersebut. Tampak sungai dengan airnya yang berwarna kecoklatan.
Seperti yang dikatakan Abdur Rahim, sebagian besar dari anak- anak itu memang tidak duduk rapi mendengarkan penjelasan mahasiswa yang sedang mengajar atau segera menyelesaikan tugas yang diberikan seperti yang biasa dilihat di sekolah-sekolah formal. Seorang anak laki-laki berlari keluar menuju sungai dan menarik anak yang lebih kecil, yang akhirnya diketahui bahwa anak kecil itu adiknya,
“Selain memenuhi hasrat untuk bisa mengamalkan apa yang telah kami pelajari, ada kepuasan dan kelegaan tersendiri ketika bisa melihat mereka belajar dan rehat sejenak dari kesibukan mereka mencari tambahan uang di terminal”, tambah Ega yang memiliki nama lengkap Mega Puspita dan berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.
Ketika ditanya apakah kegiatan belajar dengan anak anjal ini mengganggu kuliah mereka, sontak mereka menjawab “tidak” dan kegiatan ini dilakukan di hari libur (hari Ahad) sehingga tidak mengganggu kegitan mereka di kampus. Kesibukan membimbing anak-anak jalanan tidak membuat mereka mengabaikan tugas kampus atau tidak bisa meraih prestasi. Hal ini terbukti setelah diketaui bahwa kelimanya adalah peraih beasiswa tingkat kampus. Bahkan Ega merupakan salah satu penerima beasiswa bergengsi yang diberikan salah satu perusahaan rokok terkenal, yaitu Beswan Djarum.
Belajar bersama anjal yang telah dilakukan sejak satu tahun lalu oleh para mahasiswa itu bisa menjadi cerminan bagi banyak mahasiswa yang hanya sibuk dengan kuliah maupun kegiatan tidak bermanfaat lainnya seperti jalan-jalan dan menghadiri konser. Di dekat mereka, banyak anak-anak yang membutuhkan uluran kepedulian mahasiswa, karena mahasiswa yang notabene dimayoritasi oleh kaum muda, masih memiliki semangat besar untuk melakukan perubahan dan menjadi agen of change bagi lingkungan mereka.
Berbicara tentang mahasiswa selalu merujuk pada elemen khas dan istimewa serta peran mereka terhadap berbagai pembangunan bangsa. Sejarah telah mencatat bagaimana para mahasiswa berusaha dengan semangat yang mereka miliki untuk melahirkan TRITURA. Selajutnya mereka berperan penting pula dalam menggulingkan pemerintahan presiden pertama RI. Hal yang tak kalah penting adalah peran mereka dalam melahirkan sistem pemerintahan orde baru (yang masih menerapkan aturan orde lama), yang kemudian digantikan oleh reformasi.
Pemerintah telah mengatur perpolitikan dalam skala perguruan tinggi dalam SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berisi aturan tentang kelembagaan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi.[1] Hal ini bisa dilihat dari keberadaan organisasi di tingkat kampus perguruan tinggi, seperti DEMA dan BEM. Sistem pemilihan dan pengorganisasian diatur sedemikian rupa sehingga benar-benar menyerupai sistem pemerintahan skala kepresidenan.
Keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai organisasi dapat menanamkan rasa kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Mereka dituntut untuk bertanggungjawab dan mempertahankan idealismenya saat memutuskan untuk meyakini suatu hal atau kebenaran yang diyakininya. Beberapa diantaranya adalah dengan melakukan demo, orasi, dan mengadakan diskusi publik dengan anggota dewan atau wakil rakyat yang duduk di kusrsi pemerintahan, terkait keputusan pemerintah yang dianggap memberatkan kaum proletar.
Bahkan hanya dengan demo pun banyak kalangan minoritas yang merasakan begitu berartinya peran mahasiswa tersebut. Hal ini pernah diutarakan oleh salah seorang kondektur angkutan umum jenis elp bahwa mereka sangat berterimakasih dengan usaha mahasiswa di depan gedung kepresidenan dan rumah presiden di bilangan Cikeas, yaitu dalam bentuk orasi dan demo agar harga BBM tidak dinaikkan.
Mahasiswa seyogyanya mampu merefleksikan pribadi berpendidikan dan karakter yang jauh dari kesan negatif, seperti dengan berusaha untuk jujur dalam melakukan tugas dan ujian (tidak mencontek), serta melakukan berbagai aktifitas tambahan yang mampu menumbuhkan sikap kepemimpinan dan kepedulian mereka.
“Saya senang dan berterima kasih sekali dengan anak-anak itu. Jika harga BBM naik, pasti harga beras dan keperluan lain juga naik. Hidup sudah susah kok tambah disusahin gini. Semoga mereka yang nantinya menjadi anggota pemerintahan dan ngga korupsi seperti anggota dewan yang sekarang (menjabat)”, ujarnya tampak terharu. Meski kita tahu bahwa saat ini pemerintah tetap bertahan pada keputusannya dan telah menaikkan harga BBM sejak akhir Lebaran lalu, kaum tertindas tetap menghargai usaha para mahasiswa tersebut.
Bermacam-macam perjuangan dan peranan penting mahasiswa dalam pembangunan pendidikan dan politik di Indonesia, yang masing-masing tidak dapat dijelaskan secara rinci. Namun demikian, betapa pun banyaknya peran mereka, semuanya kembali pada pernyataan Sang pencipta Allah SWT melalui Rasulullah saw, bahwa salah satu orang yang paling dicintai Allah adalah kaum muda yang senantiasa bertaubat, yang dalam hal ini selalu melakukan dan mengusahakan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan yang membawa kemashlahatan bagi diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan mereka.



*) Mahasiswi Semester VII Fakultas Tarbiyah Jurusan IPA-Biologi
IAIN Syekh Nurjati Cirebon


[1] http:// Agus34drajatfiles.wordpress./2011/09/peranan-mahasiswa dalam pembangunan.pdf

Makalah BK: MACAM-MACAM PENDEKATAN TEORI KONSELING


Makalah
MACAM-MACAM PENDEKATAN TEORI KONSELING
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu: Dra. Nurul Azmi, M.Pd.










  Oleh :
Lin Indah Hidayati (1410160061)
Ade Arofah (14101600  )

BIO-B / Semester IV
Kelompok 1 (satu)
                                     


JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2012



KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Macam-macam Pendekatan Teori Konseling” ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Bimbingan Konseling. Shalawat serta salam, semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW sebagai penyampai risalah terakhir, sehingga kita mampu merasakan betapa mulianya Islam, melalui sifat-sifat yang beliau contohkan.
Kami sampaikan terimakasih pada Ibu Nurul Azmi, sebagai Dosen Pengampu mata kuliah Bimbingan Konseling, karena dengan tugas yang diberikan ini, dapat memacu kami untuk belajar dan mencari tahu tentang berbagai macam teori konseling, terutama yang berkaitan dengan makalah yang kami buat ini. Juga kepada orang tua dan rekan-rekan yang selalu memberi dorongan pada kami dalam pengerjaan makalah ini.
Kami menyadari, dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan untuk itu kami sebagai penyusun, sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan karya dan makalah lainnya di masa mendatang. Dan kami pun sangat berharap, agar makalah ini dapat dijadikan salah satu sumber bacaan yang dapat dipergunakan sebagai pembimbing dalam membuat  tulisan lainnya di kemudian hari.


Cirebon, Maret 2012









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................  i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A.    Latar Belakang ..............................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah .........................................................................................  1
C.     Tujuan ...........................................................................................................  1
BAB II MACAM-MACAM PENDEKATAN TEORI KONSELING................... 3
A.    Teori Konseling Client-Centered ..................................................................  3
B.     Teoeri Konseling Behavioral .........................................................................  5
C.     Teori Koseling Eksistensial ...........................................................................  8
D.    Teori Terapi Rasional Emotif ........................................................................  10
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 13
KESIMPULAN......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari sikap membutuhkan orang lain. Hal ini didukung pula oleh adanya masalah yang melingkupi tiap insan sesuai fitrahnya.  Seringkali ia membutuhkan pendengar yang baik atau tempat share (konsultasi) ketika mengalami masalah yang belm dapat terselesaikan olehnya sendiri.
Oleh karena itu terbentuklah suatu kerjasama antara konselor, yaitu sebutan untuk pendengar atau penasehat dan akan membantu orang yang tengah menghadapi masalah yang selanjutnya disebut klien.
Bentuk penyelesaian masalah tiap klien tentunya berbeda-beda sesuai dengan permasalahan yang mereka alami. Untuk itu, tiap konselor memiliki beragam teknik pendekatan konseling dalam rangka penyelesaian masalah klien mereka. Pendekatan-pendekatan tersebut terangkai dalam makalah yang akan dibahas oleh kami dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah berkaitan dengan pembuatan makalah ini yaitu:
1.      Apa yang  mendasari terbentuknya beragam teknik pendekatan konseling?
2.      Apa konsep dasar dari masing-masing teknik pendekatan konseling?
3.      Apa makna dan tujuan konseling dari masing-masing teknik?
4.      Bagaimana bentuk aplikasi dari masing-masing teknik tersebut?
5.      Apa kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam teknik-teknik?

C.    Tujuan
Beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui filsafat yang mendasari terbentuknya beragam teknik pendekatan konseling.
2.      Mengetahui konsep dasar dari masing-masing teknik pendekatan konseling
3.      Mengetahui makna dan tujuan konseling.
4.      Mengetahui teknik-teknik yang sering digunakan oleh konselor untuk membantu mengatasi permasalahan kliennya.
5.      Mengetahui berbagai kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam teknik-teknik pendekatan konseling tersebut.






















BAB II
MACAM-MACAM PENDEKATAN TEORI KONSELING
PENDEKATAN TEORI KONSELING
A.    TEORI KONSELING CLIENT-CENTERED
Teori ini muncul sebagai serangan terhadap konsep yang dikembangkan oleh pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud dan teori Behavioral yang memandang manusia lebih bersifat patalisme dan mekanisme. Tokoh utama teori Client-Centered ini adalah Carl Rogers. Teori ini memandang bahwa manusia memiliki pengalaman subjektifnya sendiri dan harus bersandar pada pengalaman yang realistis.
1.      Filsafat Dasar
Individu yang sadar, rsional dan baik mempunyai keinginan untuk menjadi orang  yang berfungsi sepenuhnya. Manusia memiliki suatu kecenderungan ke arah menjadi berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan terapeutik, klien mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya telah diingkari. Klien mengaktualkan potensi dan bergerak kea rah mengaktualkan kesadran, spontanitas, kepercayaan kepada diri dan keterarahan.
2.      Konsep Dasar
      Pada dasarnya mnusia bersifat kooperatif dan konstruktif sehingga tidak perlu diadakan pengendalian terhadap dorongan-dorongan agresifnya. Manusia mampu mengetahui semua apa yang baik untuk dirinya tanpa pengaruh dari luar. Konsep-konsep kunci dalam teori ini yaitu:
a.       Client-centered didasari oleh munculnya konsep diri (self-concept), aktualisasi diri (self-actualization) teori kepribadian dan hakikat kecemasan,
b.      Klien mempunyai potensi untuk menyadari terhadap masalah dan memahami cara untuk mengatasinya serta mempunyai kapasitas untuk mengarahkan dirinya sendiri (self-direction)
c.       Kesehatan mental (mental-health) merupakan kesesuaian (congruensi) dari jati diri yang ideal (ideal-self) dengan jati diri yang nyata (actual-self)



3.      Makna dan Tujuan
Makna dan tujuan teori ini adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif dan menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi diri, bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.
Untuk mencapai tujuan tersebut, terapis perlu mengusahakan agar klien dapat memahami hal-hal yang ada di balik topeng yang dikenakannya, yaitu:
a.       Menciptakan kondisi yang konektif untuk dapat memaksimalkan kesadaran diri (self- awarness) dan pertumbuhan.
b.      Mereduksi berbagai hambatan terhdap aktualisasi potensi diri serta membantu klien untuk menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan kesadaran diri yang harus juga membantunya agar bebas dan bertanggungjawab atas arah dan kehidupannya.
4.      Proses dan Teknik Konseling
Pendekatan client-centered bukan merupakan suatu pendekatan yang tetap dan tuntas. Ia mengharapkan orang lain akan memandang teorinya sebagai sekumpulan prinsip percobaan yang berkaitan dengan proses terapi. Pendekatan client-centered sanagt menekankan pada dunia fenomenal klien. Dengan teknik empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien dari perspektif dunia klien. Secara umum teori client centered membangun terbinanya hubungan yang hangat dan akrab antara konselor dank lien. Konselor perlu menciptakan suasana kebebasan,  kenyamanan, dan terlepas dari penilaian hubungan tertentu.
5.      Aplikasi Teori Konseling Client-Centered
Teori client centered ini telah banyak memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan teori-teori selanjutnya yang sangat menghargai dan memahami berbagai dimensi kemanusiaan. Teori yang dikembangkan Carl Rogers ini secara historis merupakan teori pertama yang menyentuh dimensi emosional dan rasional manusia. Karena orientasinya yang sangat komprehensif, berkaitan dengan dimensi emosional, rasional dan afektif, maka teori konseling Client-Centered ini dapat diaplikasikan pada berbagai lingkungan seperti pendidikan formal, informal, perusahaan, dan industry yang dapat dilaksanakan dalam bentuk layanan kelompok, individual, keluarga, dan remaja.
Sejalan dengan teori client-centered yang menekankan bahwa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi klien sangat ditentukan oleh klien yang bersangkutan, sedang seorang konselor hanya bersifat fasilitator dan dapat dijadikan dasar/ pedoman dalam menanggulangi gejala-gejala penyimpangan remaja tersebut.
6.      Keterbatasan Teori Konseling Client-Centered
a). Kekurangan teori ini yaitu:
● Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan, serta melupakan faktor intelekfaktor intelek, kognitif, dan rasional.
   Pengguanaan informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan teori
   Tujuan untuk klien (memaksimalkan diri) masih terlalu luas cakupannya hingga sulit untuk melakukan penilaian terhadap setiap individu
   Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal
   Meski diakui efektif, teori ini tidak memiliki bukti-bukti yang sistematik dan lengkap berkaitan dengan tanggungjawab klien yang kecil.
b). Kelebihan dari teori ini diantaranya yaitu:
   Lebih berorientasi pada pemusatan klien dan bukan pada konselor
   Lebih menekankan emosi, parasaan, dan afektif dalam proses konseling
   Lebih menekankan pada identifikasi dan penekanan hubungan konseling sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian
   Proses lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik
   Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif

B. TEORI KONSELING BEHAVIORAL
Teori konseling behavioral lebih memusatkan diri pada pengubahan perilaku nyata. Perilaku manusia yang tidak tepat (salrah) dapat dilatih dan dikontrol serta dimanipulasi sesuai harapan. Tokoh utama teori ini adalah D. Krumboltz, Hosford, Bandura dan Wolpe.


1.      Filsafat Dasar
            Dalam pandangan teori ini, manusia adalah yang memprodusir dan produk dari lungkungannya (Bandura, 1986). Sedang Surya (1988) menyatakan bahwa teori ini memandang bahwa lingkungan memberi pengaruh cukup kuat pada diri individu dan sangat sedikit berperan dalam menentukan dirinya. Teori ini menolak pendapat bahwa perilaku manusia merupkan dorongan dasar (seperti yang telah dijelaskan Freud). Karena menurut teori konseling behavioral, perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar.
2.      Konsep Dasar
            Konsep teori behavioral menurut Moh. Surya (1988) yaitu:
a.       Perilaku manusia dapat dipahami karena dapat diubah, dan masalah klien dianggap masalah belajar dalam proses belajar yang salah.
b.      Perubahan spesifik terhadap lingkungan pribadi dapat menolong perubahan perilaku yang relevan.
c.       Prosedur konseling dapat dikembangkan melalui prinsip-prinsip belajar (missal: reinforcemen dan social-modeling).
d.      Perubahan perilaku klien diluar wawancara adalah indikator keefektifan (hasil konseling).
e.       Pada hakikatnya, konseling behavioral proses logis berdasarkan prinsip-prinsip belajar.
f.       Prosedur konseling tidak statis, tetapi secara khusus dirancang untuk membantu klien mengatasi masalahnya.
3.      Maksud dan Tujuan Konseling
            Makna dan tujuan teori konseling ini pada hakikatnya tidak sama untuk setiap klien, tetapi disesuaikan dengan masalah yang dihadapinya. Secara umum,  tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien memperbaiki pola perilaku salah, belajar membuat keputusan, dan mencegah timbulnya berbagai masalah.
4.      Proses dan Teknik Konseling
Proses dan langkah-langkah yang dapat ditempuh teori behavioristik ini yaitu:
1). Menganalis dan merumuskan masalah klien dalam bentuk unit tingkah laku maladaptif
2). Merumuskan tujuan-tujuan khusus dalam rangka mengubah perilaku dengan menerapkan teknik yang tepat
            Konseling behavioristik merupakan proses pembelajaran klien untuk memperoleh pola-pola perilaku poitif dalam memecahkan berbagai masalah interpersonal, emosional, maupun psikologis. serta dalam mengambil keputusan-keputusan tertentu, harus ada peranan antara klien dan konselor serta menyadari situasi belajar yang dijalaninya.
            Adapun teknik-teknik konseling (Surya, 1988) yang biasa dilakukan antara lain: desentisasi model, restrukturing kognitif, penghentian pikiran, latihan ketegasan, latihan keterampilan social, program manajemen diri, pengulangan perilaku, latihan khusus, teknik terapi multimodal, dan tugas-tugas pekerjaan rumah.
5.      Aplikasi Teori Konseling Behavioral
Dalam proses konselingnya, Konseling Behavioristik lebih mudah diaplikasikan karena lebih rinci dan sisitematis, hasil mudah diukur dan dirumuskan dalam perilaku nyata, serta memiliki beragam variasi teknik sehingga banyak alternatif untuk berbagai masalah yang dihadapinya.
Dalam aplikasinya, teori ini dapat diterapkan dalam berbagai setting, diantaranya terapi individu dan kelompok, institusi pendidikan, dan situasi-situasi belajar lainnya. Sebagai terapi yang berpendekatan pragmatis, teori ini berladaskan kesahihan eksperimental atas hasil-hasil.
Salah satu prinsip behavioral yaitu menekankan proses tingkah laku individu yang dimanipulasi melalui belajar. Untuk itu, seorang konselor harus menempatkannya ke dalam posisi perilaku yang dapat diubah melalui penciptaan kondisi seseorang yang kondusif (factor lingkungan sangat berpengaruh). Namun, pandangan optimistik terhadap lingkungan, tidak sealu dianggap sebagai satu-satunya cara penyelesaian masalah, karena pada kenyataanya, faktor lingkungan memiliki keterbatasan yaitu hanya mengantarkan konselor dalam kondisi pemecahan masalah yang bersifat instrumen (suplementer).

6.      Keterbatasan Teori Konseling Behavioral
a). Kekurangan dari teori ini yaitu:
·         Konseling behavioral bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabakan hubungan antar pribadi.
·         Lebih terkonsentrasi kepada teknik.
·         Meskipun sering menyatakan persetujuan kepada tujuan klien, konselor teteap menjadi penentu tujuan tersebut.
·         Konstruk belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus di tes.
·         Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk perilaku yang lain.
b). Kelebihan dari teori ini yaitu:
§  Teori ini lebih mudah diaplikasikan karena rinci dan sistematis.
§  Lebih memberikan ilustrasi bagaimana mengatasi keterbatasan lingkungan.
§  Hasilnya mudah diukur dan dirumuskan dalam perilaku nyata.
§  Penekanan dipusatkan pada perilaku sekarang dan bukan pada perilaku yang terjadi di masa lalu.
§  Memiliki teknik beragam sehingga banyak alternatif untuk berbagai masalah yang dihadapi.

C. TEORI  KONSELING EKSISTENSIAL
Teori Eksistensial berkembang  sebagai reaksi  melawan psikoanalisis dan behaviorisme  yang  di  anggap tidak berlaku adil dalam mempelajari manusia. Teori ini sangat menekankan implikasi-implikasi falsafah hiidup dalam menghayati makna kehidupan manusia  di dunia ini. Tokoh-tokoh atau promotor yang berpengaruh dalam  konseling eksistensial adalah Rollo  May, Victor E. Frankl dan Adrian Van Kaam. 
1.      Filsafat Dasar
Teori terapi  Eksistensial dalam prosesnya berlandaskan pada konsep dan asumsi tentang  manusia itu  memliki kesadaran diri, bebas dan bertanggung jawab. Ia mampu menemukan jati diri dan  membangun hubungan yang signifikan dengan orang  lain. Kecemasan itu merupakan suatu unsur dasar, pencarian  makna yang unik di dalam dunia yang  bermakna, menyendiri tapi berada  dalam hubungan dengan orang lain, keterbatasan  dan kematian serta kecenderungan mengaktualkandiri.
2.      Konsep Dasar
Teori  konseling ini  memfokuskan pada kondisi-kondisi Kepribadian  yang berkembang unik sesuai dengan  masing-masing individu. Kesadaran diri berkembang  sejak  bayi dan kecenderungan diri kearah  pertumbuhan merupakan  ide-ide sentral. Psikopatologi  merupakan  akibat  dari kegagalan dalam mengaktuakan  potensi. Teori ini berfokus pada  saat  ini dan berorienntasi pada  masa depan  serta lebih  menekankan pada kesadaran  dan  pemahaman  diri sebelum  bertindak.
3.      Makna dan  Tujuan Konseling
Makna dan  Tujuan Konseling  Eksistensial adalah membantu klien  untuk menemukan dan  menggunakan kebebasan  memilih dengan memperluas kesadaran  diri serta membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah  kehidupannya  sendiri. Sedangkan tujuannya merupakan proses untuk menolong  individu agar individu mengetahui dan menjadi sadar, menciptakan situasi dan kondisi untuk memaksimalkan  kesadaran dan pertumbuhan diri.
4.       Proses dan Teknik Konseling
Berbeda dengan teori lainnya, teori konseling eksistensial tidak mempunyai teknik yang spesifik, karena  teori ini lebih  mengutamakan pemahaman klien terhadap dirinya sendiri. Akan tetapi  konselor dapat menjamin teknik-teknik  dari pendekatan lain.  Diagnosis  dan pengetesan dipandang tidak terlalu penting, tapi yang pertama  konselor harus mempunyai empati yang  tinggi. Artinya hubungan  yang hangat dan terbuka antara konselor dan  klien sangat penting.

5.       Apllikasi Teori Konseling Eksistensial
Model pendekatan teori konseling eksistensial inii dapat diterapkaan baik bagi konseling individual maupun kelompok,  juga dapat  diaplikasikan untuk menangani anak-anak  dan remaja, serta dapat  di intregasikan dalam  bentuk prktek-praktek di lembaga  pendidikan formal. Dalam teori eksistensialistis, kunci yang paling menentukan di dalam memecahkan masalah tersebut adalah tetap kembali kepada  subjek individu  (remaja) itu sendiri,  karena potensialitas  diri anak merupakan faktor penentu merupakan faktor terjadinya prilaku individu. Konselor hanya sebagai pemberi intervensi dalam membimbing dan mengarahkan klien.
6.      Keterbatasan Teori Konseling Eksistensial
a)      Kekurangan
1.       Teori ini terlalu menekankan pada kesadaran dan pemahaman diri sebelum bertindak.
2.      Teori konseling eksistensial tidak mempunyai teknik yang spesifik, dan lebih mengutamakan klien terhadap dirinya sendiri.
b)     Kelebihan 
1.      Teori ini lebih memfokuskan terhadap kebutuhan akan pendekatan subjektif yang berazaskan pada suatu pandangan yang komprehensif mengenai eksistensi  manusia.
2.      Lebih mengorientasikan pada perlunya suatu  pernyataan filosofis menngenai apa arti sesungguhnya terjadi diri pribadi.
3.      Terciptanya hubungan yang hangat dan terbuka antara konselor dan klien. Sehingga melalui  proses antar  pribadi  ini, klien semakin menyadari kemamppuannya untuk  mengatur dan menentukan arah hidupnya sendiri secara  bebas dan bertanggung jawab.

D.     TEORI TERAPI  RASIONAL EMOTIF
            Teori  terapi rasional emotif secara konseptual menitikberatkan pada proses berfikir, menilai, memutuskan, menganalisis dan bertindak. Teori ini di kembangkan oleh Albert Ellis, dan pendekatan atau teori ini kelihatannya  sangat mempprihatinkan dimensi didaktik  dan bersifat direktif dan banyak berorientasi pada dimensi pikiran.

1.       Filsafat Dasar
Manusia mempunyai kecenderungan –kecenderungan yang bersifat bertolak belakang. Manusia memiliki kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berfikir, mencintai, bergabbung  dengan orang lain serta tumbuh mengaktualisasikan diri. Manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir, rasional dan jujur maupun untuk berfikir irrasional  dan jahat. Maka manusia juga memiliki kecenderungan kearah penghancuran diri, perfeksionisme dan mencela diri, menghindari penggunnaan pemikiran, takhayul, dan tidak toleran.
2.       Konsep kunci
Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinannya untuk memperbaiki pola-pola yang di fungsional itu, manusia harus menggunakan metode-metode perseptual kognitif, emotif evokatif, dan behavioristik-reeduktif.  Terapi ini menekankan bahwa manusia berfikir, beremosi dan bertindak secara simultan.

3.      Makna dan tujuan konseling
Makna dan tujuan terapi rasional emotif adalah meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih rasional, realistik dan toleran. Teori ini tidak hanya diarahkan pada penghapusan gejala, tetapi juga untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya secara mendasar, membantu mereka untuk memperoleh keyakinan yang benar berkenaan dengan  minat diri, minat sosia dan pengaturan diri. Teori ini mendorong suatu re-evaluasi filosofis dan idiologis berdasarkan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis.
4.      Proses dan konsep konseling
Teknik-teknik konseling dirancang untuk melibatkan klien kedalam evaluasi kritis atas filsafat hidupnya. Diagnosis yang spesifik di buat. Dengan terapis menafsirkan, betanya, menggali, menantang, dan menngkonfronmasikan klien. Pendekatan ini menggunakan prosedur yang beragam seperti mengajar, membaca, pekerjaan rumah dan penerapan metode ilmiyah secara logis dengan memperhatikan proses dan bentuk pemecahan masalahnya.
Menurut Albert Ellis, teknik yang di gunakan dalam RET ini lebih bersifat elektf sesuai dengan karakter permasalahan yang cukup bervariasi, sebagaimana memiliki pengalaman hidup yang cukup berarti, belajar tentang pengalaman-pengalaman orang lain, dan memasuki hubungan degan terapis.
5.      Kontribusi dan aplikasinya
Kontribusi utama dalam teori ini adalah penekanannya pada keharusan praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku masalah.  Pendekatan ini menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan pribadi. Terapi Rasional Emotif lebih  efektif dalam menangani para klien  yang tidak terganggu secara serius atau para klien yang memiliki hanya suatu gejala utama. Tipe-tipe klien yang ditangani dengan prosedur-prosedur teori ini adalah mencakup klien yang mempunyai  tingkat kecemasan yang moderat, gangguan  Kepribadian neurotik dan masalah perkawinan.













BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pembahasan isi makalah dan diskusi yang telah dilakukan, maka dapat kami tarik beberapa kesimpulan berikut ini:
1.      Menurut teori Client-Centered, anusia memiliki pengalaman subjektif  sendiri dan realistis.
2.      Menurut teori Behavioral, pengubahan perilaku nyata dapat dilakukan sesuai harapan.
3.      Teori Eksistensial lebih menonjolkan implikasi-implikasi yang berkaitan dengan falsafah hidup .
4.      Teori Terapi Rational Emotif cenderung berhubungan tentang tahapan-tahapan dalam melakukan suatu hal, seperti berfikir, menilai, memutuskan, menganalisis, dan bertindak.



DAFRAR PUSTAKA
Masdudi. 2011. Bimbingan dan Konseling Perspektif Sekolah. Cirebon: at-Tarbiyah Press.