Sabtu, 04 Januari 2014

LKTI IAIN SNJ 2013


Banyak suka dan duka dalam pembuatan karya tulis ini. Suka karena ternyata saya bisa menghasilkan karya dalam hanya waktu 2,5 jam dengan ide yang terlintas begitu saja karena data karya tulis yang masih kurang lengkap (hasil wawancara). Semula ingin membuat Academic Paper berupa laporan penelitian, tapi saya merasa hasilnya akan kurang bagus jika hanya menggunakan sedikit narasumbeer. Akhirnya saat mengisi daftar hadir, dengan mengucap basmalah, saya beralih haluan tema menjadi Popular Writing. Duka karena artikel yang saya buat mencantumkan hasil wawancara (sebenarnya tanya jawab biasa) saat KKN semester sebelumnya. Tapi ternyata teman saya kurang senang namanya dicantumkan tanpa izin. Inilah kesalahan fatal saya, mencantumkan narasumber tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Saya janji, tidak akan mengulang kode etik jurnalistik tersebut. AlhamdulIllah, seiring perjalanan waktu dan permintaan maaf yang terus diucapkan, mereka pun akhirnya memaafkan saya. Moga Allah meridhai karya saya ini. Inshaa Allah . . . ^_^

INTERNALISASI RASA KEPEDULIAN BANGSA DALAM TIAP PRIBADI MAHASISWA










Oleh:
Lin Indah Hidayati






JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2013

INTERNALISASI RASA KEPEDULIAN BANGSA DALAM TIAP PRIBADI MAHASISWA

Lin Indah Hidayati*)

Sebulan lalu kita dikagetkan dengan peristiwa tersebarnya video yang menampilkan adegan porno di sebuah SMP di Jakarta. Video ini tidak hanya mengejutkan pihak sekolah, melainkan juga disayangkan oleh kalangan akademisi, intelektual, orang tua, dan pelajar lainnya. Video ini diaktori oleh sepasang pelajar SMP dan dilakukan di salah satu ruangan di sekolah tersebut. Tambahan lagi, hal yang membuat miris dan sangat disayangkan adalah orang-orang di dekat mereka saat itu, yang juga teman-teman mereka, justru tertawa-tawa sambil merekam adegan ‘dua aktor’ tersebut.
Peristiwa tersebut membuat banyak masyarakat nasional maupun internasional bertanya, ‘Apakah perilaku anak-anak Indonesia sudah separah itu? Pendidikan seperti apa yang telah diajarkan pada anak-anak itu? Apa saja yang telah dilakukan para pendidik dan orang tua selama pendidikan anak-anak di sekolah?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan masalah dan PR besar bagi masyarakat Indonesia yang perlu segera dicari upaya penyelesaiannya.
Berbagai komentar diutarakan oleh kalangan pendidik dan masyarakat umum terkait permasalahan tersebut. Sebagian besar dari mereka sepakat bahwa faktor peenyebabnya adalah tidak adanya filterisasi media, baik TV maupun internet serta kurangnya pengawasan orang tua dan guru. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia memerlukan banyak pembenahan. Hal ini pula yang diduga menjadi pendorong lahirnya Kurikulum 2013 yang didalamnya menanamkan berbagai nilai tambahan, salah satu diantaranya adalah nilai religius atau ke-Tuhan-an selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Indonesia tampaknya tidak hanya memiliki masalah dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam bidang pemerintahan dan politik. Diantaranya adalah lahirnya berbagai kebijaksanaan pemerintah yang dirasakan masyarakat umum sebagai sebuah keputusan yang tidak bijaksana dan justru menyengsarakan mereka, seperti kenaikan harga BBM selepas Ramadhan lalu dan korupsi mega proyek yang dilakukan para ‘wakil rakyat’.
Kondisi yang bertolak belakang dengan dua kejadian di atas sebenarnya tidak jarang pula kita lihat di beberapa tempat. Hari Ahad kemarin di Desa Dukuh Semar, di sela-sela keramaian terminal Harjamukti, tepatnya di sebuah rumah warga yang terletak di belakang terminal, tampak kerumunan anak seusia SD dan SMP yang tengah belajar. Di dekat mereka, beberapa pemuda dan pemudi tampak mendampingi dan membimbing anak-anak itu.
Anak-anak yang tengah belajar itu tidak lain adalah para anjal, atau anak-anak jalanan, yang sering kita lihat di perempatan lampu merah, pasar, maupun terminal. Alasan klasik (namun masih sulit untuk diketahui pemecahannya) yaitu kondisi perekonomian keluarga menjadi penyebab utama mereka menjalani ‘profesi’ sebagai anjal. Sepulang sekolah, mereka mangkal di tempat-tempat yang menurut mereka bisa mendatangkan uang untuk membantu keuangan keluarga. Lima orang pemuda dan pemudi yang menyertai mereka rupanya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Cirebon.
Abdul Rohim, yang merupakan salah satu dari pemuda tersebut dan berasal dari Jurusan Matematika, memberitahu bahwa proses pembelajaran yang mereka bersifat fleksibel. Artinya, tempat dan aturan disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental anak-anak serta cuaca.
“Mengajari anak biasa dengan anak jalanan tentunya berbeda, meskipun memang mereka juga sekolah. Anak-anak jalanan lebih agresif dan memerlukan bimbingan halus. Dalam artian, tidak bisa dipaksa-paksa. Model pembelajaran harus sering dirubah, karena kalau ngga, mereka bisa bosan. Kami juga mengondisikan tempat apabila sedang hujan. Pernah di pantai atau pinggir sungai itu”, ujarnya sambil menunjuk samping rumah tersebut. Tampak sungai dengan airnya yang berwarna kecoklatan.
Seperti yang dikatakan Abdur Rahim, sebagian besar dari anak- anak itu memang tidak duduk rapi mendengarkan penjelasan mahasiswa yang sedang mengajar atau segera menyelesaikan tugas yang diberikan seperti yang biasa dilihat di sekolah-sekolah formal. Seorang anak laki-laki berlari keluar menuju sungai dan menarik anak yang lebih kecil, yang akhirnya diketahui bahwa anak kecil itu adiknya,
“Selain memenuhi hasrat untuk bisa mengamalkan apa yang telah kami pelajari, ada kepuasan dan kelegaan tersendiri ketika bisa melihat mereka belajar dan rehat sejenak dari kesibukan mereka mencari tambahan uang di terminal”, tambah Ega yang memiliki nama lengkap Mega Puspita dan berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.
Ketika ditanya apakah kegiatan belajar dengan anak anjal ini mengganggu kuliah mereka, sontak mereka menjawab “tidak” dan kegiatan ini dilakukan di hari libur (hari Ahad) sehingga tidak mengganggu kegitan mereka di kampus. Kesibukan membimbing anak-anak jalanan tidak membuat mereka mengabaikan tugas kampus atau tidak bisa meraih prestasi. Hal ini terbukti setelah diketaui bahwa kelimanya adalah peraih beasiswa tingkat kampus. Bahkan Ega merupakan salah satu penerima beasiswa bergengsi yang diberikan salah satu perusahaan rokok terkenal, yaitu Beswan Djarum.
Belajar bersama anjal yang telah dilakukan sejak satu tahun lalu oleh para mahasiswa itu bisa menjadi cerminan bagi banyak mahasiswa yang hanya sibuk dengan kuliah maupun kegiatan tidak bermanfaat lainnya seperti jalan-jalan dan menghadiri konser. Di dekat mereka, banyak anak-anak yang membutuhkan uluran kepedulian mahasiswa, karena mahasiswa yang notabene dimayoritasi oleh kaum muda, masih memiliki semangat besar untuk melakukan perubahan dan menjadi agen of change bagi lingkungan mereka.
Berbicara tentang mahasiswa selalu merujuk pada elemen khas dan istimewa serta peran mereka terhadap berbagai pembangunan bangsa. Sejarah telah mencatat bagaimana para mahasiswa berusaha dengan semangat yang mereka miliki untuk melahirkan TRITURA. Selajutnya mereka berperan penting pula dalam menggulingkan pemerintahan presiden pertama RI. Hal yang tak kalah penting adalah peran mereka dalam melahirkan sistem pemerintahan orde baru (yang masih menerapkan aturan orde lama), yang kemudian digantikan oleh reformasi.
Pemerintah telah mengatur perpolitikan dalam skala perguruan tinggi dalam SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berisi aturan tentang kelembagaan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi.[1] Hal ini bisa dilihat dari keberadaan organisasi di tingkat kampus perguruan tinggi, seperti DEMA dan BEM. Sistem pemilihan dan pengorganisasian diatur sedemikian rupa sehingga benar-benar menyerupai sistem pemerintahan skala kepresidenan.
Keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai organisasi dapat menanamkan rasa kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Mereka dituntut untuk bertanggungjawab dan mempertahankan idealismenya saat memutuskan untuk meyakini suatu hal atau kebenaran yang diyakininya. Beberapa diantaranya adalah dengan melakukan demo, orasi, dan mengadakan diskusi publik dengan anggota dewan atau wakil rakyat yang duduk di kusrsi pemerintahan, terkait keputusan pemerintah yang dianggap memberatkan kaum proletar.
Bahkan hanya dengan demo pun banyak kalangan minoritas yang merasakan begitu berartinya peran mahasiswa tersebut. Hal ini pernah diutarakan oleh salah seorang kondektur angkutan umum jenis elp bahwa mereka sangat berterimakasih dengan usaha mahasiswa di depan gedung kepresidenan dan rumah presiden di bilangan Cikeas, yaitu dalam bentuk orasi dan demo agar harga BBM tidak dinaikkan.
Mahasiswa seyogyanya mampu merefleksikan pribadi berpendidikan dan karakter yang jauh dari kesan negatif, seperti dengan berusaha untuk jujur dalam melakukan tugas dan ujian (tidak mencontek), serta melakukan berbagai aktifitas tambahan yang mampu menumbuhkan sikap kepemimpinan dan kepedulian mereka.
“Saya senang dan berterima kasih sekali dengan anak-anak itu. Jika harga BBM naik, pasti harga beras dan keperluan lain juga naik. Hidup sudah susah kok tambah disusahin gini. Semoga mereka yang nantinya menjadi anggota pemerintahan dan ngga korupsi seperti anggota dewan yang sekarang (menjabat)”, ujarnya tampak terharu. Meski kita tahu bahwa saat ini pemerintah tetap bertahan pada keputusannya dan telah menaikkan harga BBM sejak akhir Lebaran lalu, kaum tertindas tetap menghargai usaha para mahasiswa tersebut.
Bermacam-macam perjuangan dan peranan penting mahasiswa dalam pembangunan pendidikan dan politik di Indonesia, yang masing-masing tidak dapat dijelaskan secara rinci. Namun demikian, betapa pun banyaknya peran mereka, semuanya kembali pada pernyataan Sang pencipta Allah SWT melalui Rasulullah saw, bahwa salah satu orang yang paling dicintai Allah adalah kaum muda yang senantiasa bertaubat, yang dalam hal ini selalu melakukan dan mengusahakan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan yang membawa kemashlahatan bagi diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan mereka.



*) Mahasiswi Semester VII Fakultas Tarbiyah Jurusan IPA-Biologi
IAIN Syekh Nurjati Cirebon


[1] http:// Agus34drajatfiles.wordpress./2011/09/peranan-mahasiswa dalam pembangunan.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar